Friday, April 5, 2013

Cerita Pasukan Khusus TNI AL dengan Tentara Malaysia


Pada waktu konflik ambalat
pertama
kali tahun lalu ada cerita yang
cukup menarik mengenai aksi
tentara kita terhadap kapal
patroli malaysia. Pada saat itu
di perairan karang unarang
ambalat, kita sedang
membangun mercu suar
sebagai bukti kedaulatan kita
disana. Pembangunan mercu
suar tersebut tidaklah mudah
mengingat kapal malaysia
sering mengganggu dengan
sering mendekati mercu suar
lalu mengerem mendadak
sehingga ombak cukup besar
menghantam mercu suar. Hal
ini sangat menyulitkan para
pekerja dalam menyelesaikan
pembangunan. Sebenarnya di
mercu suar tersebut ada dua
tentara marinir yang berjaga
dengan senjata lengkap
dengan posisi senjata
diarahkan pada Kapal Patroli
Malaysia tersebut.

Namun mereka tidak bisa berbuat
banyak mengingat tidak ada
perintah menembak kecuali
ditembak terlebih dahulu.

Tentunya bisa dibayangkan
betapa jengkelnya tentara kita
melihat gangguan tersebut
tanpa bisa berbuat apa-apa
melihat para pekerja berbasah-
basah dan nyaris jatuh ke laut
terkena terjangan ombak
kapal. Mereka berpikir kalau
begini terus caranya kapan bisa
selesai pembangunan mercusuar
tersebut sementara
mereka harus berjaga
kepanasan, kehujanan dengan
pemandangan laut sejauh
mata memandang.

Setelah kelelahan menganggu
dengan ombak buatannya,
Kapal Perang malaysia
beristirahat di tengah laut
dekat mercusuar. Sementara
itu awak kapalnya tidur-tiduran
dan duduk2 sambil baca koran
di atas dek kapal. Terkejutnya
mereka tiba-tiba di atas kapal
sudah berdiri seorang tentara
Indonesia dengan senjata
mengarah pada mereka sambil
membentak “siapa pemimpin
disini”. Seseorang perwira
kapal malaysia keluar dari
kapal sambil mengangkat
tangan “saya” jawabnya
dengan sedikit gugup. “Pergi
dari sini jauh jauh atau saya
tembak” perintah Tentara
Indonesia. Tanpa berpikir
panjang Kapal Malaysia segera
menarik sauh, menghidupkan
Kapal dan menjauh dari Mercu
suar. Sementara itu tentara
kita langsung meloncat ke laut
untuk kembali ke mercu suar.

Sejak insiden tersebut tidak
ada lagi kapal malaysia berani
mendekat Mercu suar, sehingga
pembangunan bisa lebih cepat.

Kejadian ini sempat jadi
pembicaraan hangat di Kota
Tarakan dan sempat
diberitakan pada koran lokal.

Walaupun insiden ini cukup
beresiko tapi masyarakat di
perbatasan cukup
mengapresiasi keberanian
tentara tersebut.

Berdasarkan cerita tersebut,
menurut pemikiran saya
Malaysia sebenarnya mengajak
adu nyali tapi tidak ada niat
untuk berperang. Saya merasa
khawatir adu nyali ini
diarahkan untuk tawaran
perundingan yang akhirnya
berujung kembali di Mahkamah
Internasional seperti sipadan
ligitan. Mengingat lobi-lobi
Malaysia bisa dimainkan disana
dan peluang mendapatkan
ambalat bisa 50%:50%.

Seharusnya Pemerintah jangan
terpancing untuk berunding
apalagi maju ke Mahkamah
Internasional. Selesaikan saja
secara fisik di perbatasan
tersebut. Saya yakin tidak akan
ada perang di ambalat kecuali
hanya adu syaraf dan nyali.

So… peluang Malaysia 0%

No comments:

Post a Comment