Saturday, August 11, 2012

pengertian sejarah


SEJARAH SEBAGAI ILMU

Difinisi sejarah menurut tokoh-tokoh sejarah sebagai ilmu :

         Menurut Burry : sejarah adalah suatu
     ilmu pengetahuan tidak kurang tidak lebih.


         Menurut York Powel: sejarah bukanlah
     sekedar suatu cerita yang indah dan
     mengasyikkan,tetapi merupakan cabang
     ilmu pengetahuan.


         Menurut Dithley : sejarah merupakan cabang ilmu yang bersifat khusus.



         Menurut Kuntowijoyo : sejarah sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 
    a.Sejarah berhubungan dengan hal-hal yang berkaitan dg
       pengalaman manusia.
    b.Sejarah mempunyai Obyek.
    c.Sejarah mempunyai teori pengalaman.
    d.Sejarah mempunyai generalisasi.
    e.Sejarah mempunyai metode.


         Sejarah dikatakan sebagai ilmu apabila memiliki syarat :
     a.memiliki obyek
     b.memiliki metode
     c.tersusun secara sistematis
     d.kebenarannya bersifat obyektif






Perbedaan sudut pandang para ahli mengartikan ilmu membawa konsekuensi timbulnya berbagai pendapat tentang perbedaaan mengenai hakikat ilmu. Mengutip pernyataan Jujun S. Suriasumantri, Secara kefilsafatan hakikat ilmu terutama diarahkan pada unsur-unsur yang harus ada pada setiap ilmu didalam menjawab tiga masalah pokok hakikat manusia untuk memperoleh pengetahuan, yaitu:
  • Apa yg ingin kita ketahui? (aspek ontologi)
  • Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan? (aspek epistemologi)
  • Dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita? (aspek aksiologi)
       Secara ontologi ilmu sejarah juga memiliki objek. Menurut Kuntowijoyo, lebih dari segalanya objek dari sejarah ialah waktu. Kalau fisika membicarakan waktu fisik, maka sejarah membicarakan waktu manusia. Waktu dalam sejarah tak pernah, lepas dari manusia.
      Secara epistemologi, ilmu sejarah juga memiliki metode dan teori. Untuk penelitian sejarah memiliki metode tersendiri yang menggunakan pengamatan. Metode sejarah itu bersifat terbuka dan hanya tunduk pada fakta. Seperti yang dianjurkan oleh Ranke, supaya sejarah menulis apa yang sebenarnya terjadi, wie es eisgentlich gewesen, sebab setiap periode sejarah itu akan dipengaruhi oleh semangat zamannya (zeitgeist). Sejarah mempunyai tradisi yang panjang, jauh lebih panjang daripada ilmu-ilmu sosial. Teori sejarah diajarkan sesuai dengan keperluan peradaban.
       Secara aksiologi, Ilmu sejarah memiliki sebuah nilai-nilai atau suatu guna didalamnya, baik secara intrinsik dan ekstrinsik. Menurut Kuntowijoyo, ada setidaknya empat guna sejarah secara intrinsik, yaitu Sejarah sebagai ilmu itu sendiri, Sejarah sebagai cara mengetahui masa lampau, sejarah sebagai pernyataan pendapat, dan sejarah sebagai profesi. Kemudian nilai  ekstrinsik, ilmu sejarah secara umum mempunyai fungsi pendidikan, yaitu pendidikan moral, penlaran, politik, kebijakan, perubahan, masad depan, keindahan dan ilmu bantu. Adapun kegunaan sejarah dalam ilmu-ilmu sosial mencakup tiga hal yakni, sejarah sebagai kritik terhadap generalisasi ilmu-ilmu sosial, permasalahan sejarah dapat menjadi permasalahan ilmu-ilmu sosial dan pendekatan sejarah yang bersifat diakronis menambah dimensi baru pada ilmu-ilmu sosial yang sinkronis.
       Dengan kata lain, bahwa ketiga aspek tersebut merupakan dasar bagi eksistensi ilmu. Ilmu sejarah mampu menjawab ketiga aspek tersebut dengan begitu ilmu sejarah telah pantas jika dikatakan sebagai suatu ilmu dan telah mencapai taraf ilmu pengetahuan. Ketepatan dan objektivitas sangat perlu dalam penulisan sejarah. Ketepatan itu adalah kesesuaian antara fakta dan tulisan sejarah. Objektivitas yaitu idak adanya pandangan yang individual. Kedua hal tersebut dapat dikesankan oleh penguasa sejarawan atas detail dan tulisan sejarah yang terasa teknis. Akan tetapi, kesan keberadaan dua hal tersebut akan hilang jika sejarah menjadi seni. Seni itu hasil imajinasi sedangkan sejarah berdasarkan fakta.
       Pemujaan yang berlebihan terhadap fakta memang amatlah perlu. Karena fakta bisa menjadi tumpuan para sejarawan. Sejarawan harus tahu fakta-fakta yang relevan dengan penelitiannya, tetapi tugas utama sejarahwan ialah rekontroksi. Sejarah yang teralalu dekat dengan seni dapat dianggap telah memalsukan fakta. Sejarah akan hilang ketepatan dan objektivitasnya sehingga akan sulit menentukan relasi-relasi tetap antara fakta-fakta historis.




















Sejarah sebagai ilmu memiliki ciri-ciri sebagai berikut ;
a. Empiris
Empiris berasal dari bahasa Yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sejarah sangat bergantung pada pengalaman manusia. Pengalaman tersebut direkam dalam dokumen dan peninggalan sejarah lainnya, kemudian diteliti oleh sejarawah untuk menemukan fakta.
b. Memiliki Objek
Kata Objek berasal dari Latin objectus artinya yang dihadapan, sasaran, tujuan. Objek yang dipelajari oleh sejarah sebagai ilmu adalah manusia dan masyarakat yang menekankanpda sudut pandang waktu.
c. Memiliki Teori
Dalam bahasaYunani theoria berarti renungan. Sama seperti ilmu sosia lainnya, sejarah mempunyai teori yang berisi kumpulan kaidah-kaidah pokok suatu ilmu, seperti: teori sosiologi, teori nasionalisme, teori konflik sosial, dsb.
d. Memiliki Metode
Methodos (Bahasa Yunani) berarti cara. Dalam rangka penelitian, sejarah mempunyai metodologi penelitian sendiri yang menjadi patokan-patokan tradisi ilmiah yang senantiasa dihayati.