Kura-kura
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kura-kura dan
penyu adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan
reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo)
Testudinata (atau
Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau batok (
bony shell) yang keras dan kaku.
Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (
carapace)
dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap
bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa
sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara
lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat
seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi
(Trionychoidea) dan jenis
penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.
Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal tiga kelompok hewan yang termasuk bangsa ini, yalah penyu (
bahasa Inggris:
sea turtles), labi-labi atau bulus (
freshwater turtles), dan kura-kura (
tortoises). Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (
land tortoises) dan kura-kura air tawar (
freshwater tortoises atau
terrapins).
Evolusi
Bagaimana batok kura-kura itu terbentuk dan berkembang dalam proses
evolusinya, belum diperoleh keterangan yang jelas. Fosil kura-kura
tertua kedua yang berasal dari Masa Trias (sekitar 210 juta tahun
silam),
Proganochelys, telah berbentuk mirip dengan kura-kura
masa kini. Perbedaannya, tulang belulang di bagian punggung belum
begitu melebar dan belum semuanya menyatu membentuk tempurung yang
sempurna. Kura-kura purba hidup dan berkembang kurang lebih sejaman
dengan
dinosaurus.
Archelon,
misalnya, merupakan kura-kura raksasa yang diameter tubuhnya dapat
mencapai lebih dari 4 m. Fosil kura-kura tertua yang ditemukan saat ini
adalah
Odontochelys yang ebrasal dari sekitar 220 juta tahun silam.
Banyak jenis kura-kura yang hidup sekarang mampu menyembunyikan
kepala, kaki dan ekornya ke dalam tempurungnya, sehingga dapat
menyelamatkan diri. Namun beberapa kura-kura primitif, seperti
contohnya penyu, tak dapat menarik masuk anggota badannya itu.
Kebiasaan Hidup
Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah
gurun,
padang rumput,
hutan,
rawa,
sungai dan
laut. Sebagian jenisnya hidup sepenuhnya
akuatik, baik di air tawar maupun di lautan. Kura-kura ada yang bersifat pemakan tumbuhan (
herbivora), pemakan daging (
karnivora) atau campuran (
omnivora).
Kura-kura tidak memiliki gigi. Akan tetapi perkerasan tulang di
moncong kura-kura sanggup memotong apa saja yang menjadi makanannya.
Ukuran tubuh kura-kura bermacam-macam, ada yang kecil ada yang besar. Biasanya ditunjukkan dengan panjang karapasnya (CL,
carapace length). Kura-kura terbesar adalah penyu belimbing, yang karapasnya dapat mencapai panjang 300 cm. Labi-labi terbesar adalah
labi-labi irian, dengan panjang karapas sekitar 51 inci. Sementara kura-kura raksasa dari Kep.
Galapagos dan Kep.
Seychelles panjangnya dapat melebihi 50 inci. Sedangkan yang terkecil adalah kura-kura mini dari
Afrika Selatan, yang panjang karapasnya tidak melebihi 8 cm.
Kura-kura berbiak dengan bertelur (ovipar). Sejumlah beberapa butir
(pada kura-kura darat) hingga lebih dari seratus butir telur (pada
beberapa jenis penyu) diletakkan setiap kali bertelur, biasanya pada
lubang pasir di tepi sungai atau laut, untuk kemudian ditimbun dan
dibiarkan menetas dengan bantuan panas matahari. Telur penyu menetas
kurang lebih setelah dua bulan (50-70 hari) tersimpan di pasir.
Jenis kelamin anak kura-kura yang bakal lahir salah satunya
ditentukan oleh suhu pasir tempat telur-telur itu tersimpan. Pada
kebanyakan jenis kura-kura, suhu di atas rata-rata kebiasaan akan
menghasilkan hewan betina. Dan sebaliknya, suhu di bawah rata-rata
cenderung menghasilkan banyak hewan jantan.
Kura-kura termasuk salah satu jenis hewan yang berumur panjang.
Reptil ini dapat hidup puluhan tahun, bahkan seekor kura-kura darat
dari Kep. Seychelles tercatat hidup selama 152 tahun (1766 – 1918).
Kura-kura dan Manusia
Kura-kura secara tradisional merupakan hewan yang akrab dengan manusia.
Mitologi Hindu menyebutkan bahwa
bumi ini disangga oleh empat ekor kura-kura. Demikian pula, kisah kuno
Adiparwa menceritakan bahwa kura-kura raksasa berperan penting menyangga
gunung, yang diputar dan digunakan untuk mengaduk lautan, dalam mencari
tirta amerta –air kehidupan.
Labi-labi juga menjadi hewan yang disucikan, sehingga kerap dipelihara di kolam-kolam
kuil Hindu atau tempat suci lainnya. Karena itu, lukisan kura-kura kadang-kadang muncul pada relief candi atau makam.
Pada sisi yang lain, daging kura-kura dan penyu telah sejak lama
dikenal sebagai makanan yang lezat. Beribu-ribu ekor labi-labi,
kura-kura dan penyu, terutama penyu hijau, berakhir hidupnya setiap
tahun di dapur
restoran. Demikian pula nasib telur-telurnya, banyak yang akhirnya menjadi santapan manusia.
Sejenis penyu, yakni
penyu sisik (
Eretmochelys imbricata),
diburu orang untuk diambil sisiknya yang indah sebagai bahan perhiasan.
Bersama penyu sisik, beberapa jenis penyu yang lain juga kerap dibunuh
dan dikeringkan (di
opset) untuk dijadikan hiasan dinding.
Di samping itu banyak jenis kura-kura yang ditangkapi untuk diperdagangkan sebagai hewan timangan (
pet).
Baik karena keindahan warnanya, keunikannya, atau –ironisnya-
kelangkaannya. Beberapa jenisnya dapat mencapai harga yang sangat mahal.
Tekanan yang tinggi dan terus-menerus ini, telah menurunkan banyak
populasi kura-kura ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Apalagi kebanyakan habitat alaminya di
sungai-sungai,
rawa dan
hutan
juga telah turut rusak akibat aktivitas manusia. Pada pihak lain,
perkembangan populasi kura-kura amat lambat dan kebanyakan malah belum
diketahui sifat-sifat dan kebiasaannya. Oleh sebab itu tindakan
konservasi bagi hewan ini amat diperlukan.
Dari semua bangsa kura-kura, hanya penyu yang telah dilindungi
dengan cukup baik di Indonesia. Hampir semua jenisnya telah dilindungi
oleh
undang-undang. Banyak pantai peneluran penyu yang telah dimasukkan ke dalam
kawasan yang dilindungi, seperti misalnya
Pantai Sukamade
di Jawa Timur dan Pantai Jamursba-Medi di Papua. Meski demikian,
penangkapan penyu dan pengambilan telurnya masih juga berlangsung
secara
ilegal dan sulit dihentikan.
Keanekaragaman Jenis dan Penyebaran
Seluruhnya, diperkirakan terdapat sekitar 260 spesies kura-kura dari
12-14 suku (familia) yang masih hidup di pelbagai bagian dunia. Di
Indonesia sendiri terdapat sekitar 45 jenis dari sekitar 7 suku
kura-kura dan penyu.
Suku-suku tersebut dan beberapa contohnya:
Anak bangsa (Sub Ordo) Pleurodira
Chelidae, kura-kura leher ular
Suku ini dinamai demikian karena kebanyakan anggotanya memiliki
leher yang panjang. Karena tak dapat ditarik masuk, kepala kura-kura
ini hanya dilipat menyamping di sisi tubuhnya di bawah lindungan
pinggiran tempurung badannya.
Suku kura-kura leher ular menyebar terutama di
Papua dan
Australia serta pulau-pulau di sekitarnya, dan di
Amerika Selatan. Di luar tempat-tempat tersebut ditemukan pula di
Pulau Rote,
Nusa Tenggara. Habitat kura-kura ini adalah perairan tawar. Beberapa jenisnya yang ada di Indonesia, di antaranya:
- Kura-kura rote (Chelodina mccordi)
- Kura-kura papua (Chelodina novaeguineae)
- Kura-kura perut putih (Elseya branderhosti)
Pelomedusidae
Seperti kerabat terdekatnya, Chelidae, anggota suku ini merupakan kura-kura air tawar. Kura-kura ini hidup di Amerika Selatan,
Afrika dan
Madagaskar dan tidak didapati di Indonesia.
Anak bangsa Cryptodira
Cheloniidae, penyu
Penyu hidup sepenuhnya akuatik di lautan. Kecuali yang betina ketika
bertelur, penyu boleh dikatakan tidak pernah lagi menginjak daratan
setelah dia mengenal laut semenjak menetas dahulu. Kepala, kaki dan
ekor penyu tak dapat ditarik masuk ke tempurungnya. Kaki-kaki penyu
yang berbentuk dayung, dan lubang hidungnya yang berada di sisi atas
moncongnya, merupakan bentuk adaptasi yang sempurna untuk kehidupan
laut.
Penyu tersebar luas di samudera-samudera di seluruh dunia. Dari
tujuh spesies anggota suku ini, enam di antaranya ditemukan di
Indonesia. Beberapa contohnya adalah:
Dermochelyidae, penyu belimbing
Suku penyu ini hanya memiliki satu anggota saja, yakni
penyu belimbing (
Dermochelys coriacea).
Hidup di lautan-lautan besar hingga ke daerah dingin, penyu ini
merupakan kura-kura terbesar yang masih hidup. Panjang tubuhnya
(panjang karapas) dapat mencapai 3 m, meski umumnya hanya sekitar 1.5 m
atau kurang, dan beratnya mendekati 1 ton.
Chelydridae
Suku ini terdiri dari kura-kura air tawar berekor panjang dan berkepala besar, yang menyebar di
Amerika. Dengan perkecualian satu marga anggotanya (
Platysternon) yang menyebar di
Tiongkok dan
Indochina. Beberapa ahli memasukkan
Platysternon ke dalam suku tersendiri, Platysternidae. Tidak ada di Indonesia.
Kinosternidae
Yakni suku kura-kura air tawar kecil dari Amerika bagian tengah.
Hewan yang mampu mengeluarkan bau tak enak ini tidak terdapat di
Indonesia.
Dermatemyidae
Juga menyebar terbatas di
Amerika Tengah.
Dermatemys berukuran relatif besar dan hidup di sungai-sungai.
Carettochelyidae, labi-labi moncong babi
Suku ini hanya memiliki satu anggota yang hidup, yakni
labi-labi moncong babi (
Carettochelys insculpta).
Lainnya telah punah dan hanya ditemukan dalam bentuk fosil. Labi-labi
ini menyebar terbatas di Papua bagian selatan dan di Australia bagian
utara.
Trionychidae, labi-labi
Menyebar luas di Amerika utara, (Eropa ?), Afrika dan Asia, ini
adalah suku labi-labi yang paling banyak jenisnya. Di Australia, suku
ini hanya tinggal berupa fosil. Beberapa contohnya dari Indonesia
adalah:
Emydidae
Ini adalah suku kura-kura akuatik dan semi akuatik yang hidup di air tawar di
Eropa,
Asia
dan terutama di Amerika. Emydidae merupakan salah satu suku kura-kura
terbesar dari segi jumlah anggotanya. Tidak ada spesiesnya di Indonesia
kecuali dalam bentuk hewan
introduksi sebagai hewan peliharaan. Salah satu contohnya yang banyak dipelihara di Indonesia adalah
kura-kura telinga merah (
Trachemys scripta).
Geoemydidae
Merupakan suku kura-kura yang terbanyak anggotanya, Geoemydidae (dahulu disebut Bataguridae) terutama menyebar di
Asia Tenggara.
Di luar itu, anggota suku ini juga ditemukan di Afrika bagian utara,
Erasia dan Amerika tropis. Ini adalah suku kura-kura air tawar yang
terutama hidup di sungai-sungai, meskipun sering pula ditemui di
daratan. Di Indonesia terdapat sekitar 11 jenisnya. Di antaranya:
Testudinidae, kura-kura darat sejati
Adalah suku kura-kura darat dengan banyak anggota yang tersebar luas
di seluruh dunia. Kura-kura raksasa dari Kepulauan Galapagos dan
kura-kura darat berumur panjang dari Kep. Seychelles di atas termasuk
ke dalam suku ini. Dua anggotanya terdapat di Indonesia:
Anak bangsa Paracryptodira
Telah punah.